Tanjung Lesung sering dikenal melalui foto-foto pantai berpasir putih, air laut kebiruan, resor nyaman, dan aktivitas olahraga air. Namun, kawasan di pesisir Kabupaten Pandeglang ini bukan sekadar tempat liburan.
Di balik pemandangannya, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan kehidupan masyarakat pesisir, pembangunan kawasan wisata, kebijakan pemerintah, hingga upaya bangkit setelah bencana.
Sejarah Tanjung Lesung juga menunjukkan bagaimana sebuah wilayah yang dahulu relatif jauh dari pusat kegiatan ekonomi perlahan diarahkan menjadi destinasi pariwisata berskala nasional. Prosesnya tentu tidak berlangsung dalam semalam.
Pengembangannya melewati berbagai rencana, hambatan infrastruktur, perubahan kebijakan, serta tantangan lingkungan. Kini, nama Tanjung Lesung semakin dikenal sebagai salah satu destinasi bahari di ujung barat Pulau Jawa.
Lokasinya yang menghadap Selat Sunda membuat kawasan ini memiliki lanskap laut yang indah sekaligus hubungan geografis yang erat dengan Gunung Anak Krakatau, pulau-pulau kecil, dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Mengenal Lokasi dan Asal Nama Tanjung Lesung
Tanjung Lesung berada di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kawasan ini terletak di pesisir barat Pulau Jawa dan menghadap langsung ke perairan Selat Sunda.
Dari wilayah pantainya, pengunjung dapat menikmati panorama laut terbuka serta pemandangan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan.
Nama “Tanjung Lesung” diyakini berkaitan dengan bentuk daratannya. Wilayah tersebut menjorok ke arah laut dan dianggap menyerupai lesung, yaitu wadah tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi.
Dalam penjelasan Kementerian Pariwisata, istilah lesung juga berhubungan dengan kosakata Sunda untuk menyebut alat atau wadah penumbuk beras.
Selain penjelasan geografis tersebut, masyarakat Banten mengenal cerita rakyat tentang Raden Budog dan Sri Poh Haci. Dalam legenda itu, lesung menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus sumber lahirnya nama daerah.
Kisah tersebut sebaiknya dipahami sebagai warisan cerita lisan, bukan catatan sejarah yang dapat diverifikasi sepenuhnya.
Meski begitu, legenda tetap memiliki nilai karena menunjukkan kedekatan masyarakat setempat dengan tradisi pertanian, alat-alat tradisional, dan kebudayaan Sunda-Banten.
Kehidupan Pesisir Sebelum Menjadi Kawasan Wisata
Catatan tertulis mengenai Tanjung Lesung sebelum dikembangkan sebagai kawasan pariwisata tidak sebanyak dokumentasi mengenai Kesultanan Banten atau Pelabuhan Banten Lama.
Pada masa tersebut, wilayah ini lebih dikenal sebagai bagian dari bentang pesisir Pandeglang yang dikelilingi perkampungan, kebun, lahan pertanian, dan perairan tempat masyarakat mencari penghidupan.
Kehidupan warga di sekitar pantai berkaitan dengan sumber daya alam lokal. Sebagian masyarakat bekerja di bidang pertanian, perikanan, kerajinan, perdagangan kecil, dan pengolahan hasil perkebunan.
Pola kehidupan tersebut masih dapat ditemukan di sejumlah desa penyangga Tanjung Lesung. Salah satu contohnya adalah Desa Cikadu.
Masyarakat di desa ini mengembangkan batik dengan motif khas lingkungan setempat, kerajinan kayu, bambu, dan tempurung kelapa. Terdapat pula upaya melestarikan kesenian daerah serta mengembangkan kegiatan wisata berbasis masyarakat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Tanjung Lesung tidak hanya berbicara tentang hotel dan kawasan ekonomi. Perjalanan destinasi ini juga berkaitan dengan perubahan cara masyarakat memanfaatkan potensi alam dan budaya di sekitarnya.
Awal Pengembangan Tanjung Lesung pada Dekade 1990-an
Babak modern dalam sejarah Tanjung Lesung mulai terlihat pada awal dekade 1990-an. Pemerintah telah menetapkan arah pengembangan kawasan tersebut sejak 1991.
PT Banten West Java Tourism Development Corporation kemudian menjadi badan usaha yang berperan dalam pembangunan dan pengelolaan wilayah pariwisata ini.
Gagasan dasarnya adalah membangun kawasan wisata pantai yang terintegrasi. Tanjung Lesung tidak hanya direncanakan memiliki penginapan, tetapi juga restoran, marina, fasilitas pertemuan, kegiatan olahraga air, ruang rekreasi, dan layanan pendukung lainnya.
Konsep tersebut sering dibandingkan dengan pengembangan kawasan Nusa Dua di Bali. Pengunjung diharapkan dapat memperoleh berbagai kebutuhan liburan dalam satu kawasan yang dikelola secara terencana.
Kementerian Pariwisata mencatat bahwa pengembangan oleh PT Banten West Java Tourism Development berlangsung sejak pertengahan 1990-an dengan kawasan yang dirancang seluas sekitar 1.500 hektare.
Namun, perjalanan pembangunan Tanjung Lesung tidak selalu berjalan mulus. Letaknya yang jauh dari pusat perkotaan, keterbatasan akses, kebutuhan investasi besar, dan koordinasi antarlembaga membuat perkembangannya berlangsung cukup lambat.
Ketika kawasan tersebut diresmikan sebagai KEK pada 2015, Presiden Joko Widodo bahkan menyinggung bahwa rencana pembangunan Tanjung Lesung telah berlangsung sekitar 24 tahun sejak 1991.
Pernyataan itu menggambarkan panjangnya proses dari tahap perencanaan hingga operasional.
Penetapan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata
Perubahan penting terjadi pada 23 Februari 2012. Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2012 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung.
Peraturan tersebut menjadi dasar hukum pengembangan kawasan sebagai pusat kegiatan ekonomi yang berfokus pada sektor pariwisata.
Penetapan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK bertujuan mempercepat investasi dan pembangunan infrastruktur.
Status tersebut memungkinkan kawasan memperoleh berbagai fasilitas, termasuk kemudahan perizinan serta insentif fiskal dan nonfiskal sesuai ketentuan yang berlaku. KEK Tanjung Lesung memiliki luas sekitar 1.500 hektare.
Potensinya tidak hanya berasal dari pantai, tetapi juga dari kedekatannya dengan berbagai destinasi lain di Banten, seperti Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Krakatau, kawasan budaya Baduy, serta pulau-pulau kecil di perairan Selat Sunda.
Tiga tahun setelah peraturan tersebut diterbitkan, KEK Pariwisata Tanjung Lesung resmi beroperasi. Peresmiannya dilakukan pada 23 Februari 2015 oleh Presiden Joko Widodo.
Momen ini menjadi tonggak penting karena menandai perubahan Tanjung Lesung dari proyek wisata jangka panjang menjadi kawasan ekonomi yang mulai beroperasi secara resmi.
Mengapa Status KEK Begitu Penting?
Status KEK membuat Tanjung Lesung diposisikan lebih dari sekadar pantai untuk rekreasi akhir pekan.
Kawasan ini dirancang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang dapat mengundang investor, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan mendorong usaha masyarakat.
Pada saat peresmian, kawasan tersebut telah memiliki sejumlah vila, hotel, tempat berkemah, fasilitas olahraga air, dan area rekreasi. Meski fasilitasnya belum sepenuhnya sesuai rencana besar awal, fondasi untuk membangun destinasi wisata terpadu sudah mulai terbentuk.
Berkembang sebagai Destinasi Bahari Terpadu
Daya tarik utama Tanjung Lesung tetap berasal dari bentang alam pesisirnya. Pantainya dikenal memiliki pasir berwarna terang, air relatif jernih, kawasan hijau, serta beberapa lokasi dengan ombak yang cukup tenang.
Garis pantainya membentang sekitar 13–15 kilometer, bergantung pada batas kawasan yang digunakan oleh masing-masing sumber.
Perairannya mendukung berbagai aktivitas seperti berenang, snorkeling, menyelam, memancing, berlayar, naik banana boat, dan mengelilingi pantai menggunakan perahu.
Keberadaan terumbu karang dan kehidupan bawah laut memberikan peluang besar bagi wisata bahari.
Sementara itu, bentuk kawasan yang cukup luas memungkinkan berkembangnya aktivitas darat seperti bersepeda, berkemah, mengendarai ATV, menikmati matahari terbenam, dan mengikuti kegiatan luar ruangan.
Tanjung Lesung juga dapat menjadi titik awal untuk menjelajahi tempat lain di sekitarnya. Wisatawan dapat mengunjungi Pulau Liwungan, kawasan Ujung Kulon, perkampungan lokal, serta beberapa pantai lain di pesisir Pandeglang.
Perpaduan inilah yang membuat Tanjung Lesung berbeda dari pantai biasa. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat laut, tetapi dapat menikmati pengalaman menginap, wisata alam, olahraga, budaya, kuliner, dan perjalanan antarpulau.
Tsunami Selat Sunda 2018 dan Masa Sulit Tanjung Lesung
Tanggal 22 Desember 2018 menjadi salah satu bagian paling kelam dalam sejarah Tanjung Lesung. Pada malam itu, tsunami menerjang pesisir Banten dan Lampung, termasuk kawasan wisata Tanjung Lesung.
BMKG dan Badan Geologi menjelaskan bahwa tsunami tersebut berkaitan dengan erupsi yang memicu longsornya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau.
Karena gelombang tidak didahului gempa tektonik yang kuat, masyarakat dan wisatawan memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan diri.
Bencana tersebut merusak fasilitas wisata, permukiman, kendaraan, dan berbagai bangunan di sepanjang pesisir. Sejumlah acara yang sedang berlangsung di kawasan pantai turut terdampak, sehingga tragedi Tanjung Lesung mendapat perhatian luas dari masyarakat Indonesia.
Setelah masa tanggap darurat, pemerintah melakukan pemulihan pariwisata di wilayah Anyer, Carita, Labuan, Tanjung Lesung, dan daerah pesisir lainnya.
Langkah pemulihan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan fisik, tetapi juga pemulihan kepercayaan wisatawan dan peningkatan kesiapsiagaan bencana.
Peristiwa tersebut mengubah cara pengelola dan masyarakat memandang wisata pantai. Keindahan alam harus berjalan bersama mitigasi bencana, jalur evakuasi, informasi keselamatan, edukasi pengunjung, serta koordinasi dengan lembaga kebencanaan.
Kebangkitan Pariwisata dan Peran Masyarakat Lokal
Tanjung Lesung perlahan kembali menerima wisatawan setelah proses pemulihan.
Berbagai kegiatan wisata, festival, promosi destinasi, dan pengembangan fasilitas kembali dilakukan untuk menunjukkan bahwa kawasan tersebut dapat dikunjungi dengan tetap memperhatikan keselamatan.
Kebangkitan ini tidak hanya bertumpu pada resor besar. Desa-desa di sekitar kawasan mulai mengambil bagian melalui pengembangan suvenir, kuliner, homestay, pertunjukan seni, paket edukasi, dan kerajinan lokal.
Desa Cikadu menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat dapat terlibat dalam rantai ekonomi pariwisata.
Warga menghasilkan batik bermotif badak bercula satu dan pohon kelapa, peralatan kayu, kerajinan bambu, serta produk dari tempurung kelapa. Sejumlah produk juga dipasarkan melalui ruang pamer di kawasan Tanjung Lesung dan platform digital.
Partisipasi tersebut penting karena destinasi yang baik tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi investor. Pariwisata seharusnya membuka peluang bagi pemandu lokal, nelayan, petani, pelaku kuliner, pengrajin, pemilik kendaraan, dan usaha kecil di desa sekitar.
Masa Depan Tanjung Lesung sebagai Destinasi Berkelanjutan
Masa depan Tanjung Lesung sangat bergantung pada keseimbangan antara investasi, perlindungan alam, keselamatan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pembangunan hotel dan fasilitas rekreasi memang penting, tetapi kualitas lingkungan pesisir tetap menjadi modal utama.
Terumbu karang, air laut, pantai, vegetasi, dan ruang terbuka tidak boleh dikorbankan hanya demi pembangunan jangka pendek. Tanpa lingkungan yang terjaga, daya tarik Tanjung Lesung justru akan menurun.
Mitigasi bencana juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Informasi mengenai jalur evakuasi, titik aman, peringatan dini, dan tindakan saat kondisi darurat harus mudah ditemukan oleh wisatawan.
Pada saat yang sama, pengembangan budaya dan ekonomi lokal perlu terus diperkuat.
Penelitian mengenai Desa Cikadu menunjukkan bahwa pendekatan yang menggabungkan konservasi, komunitas, budaya, dan perdagangan dapat menjadi fondasi pariwisata berbasis masyarakat yang lebih berkelanjutan.
Dengan pengelolaan yang tepat, Tanjung Lesung berpeluang menjadi destinasi yang tidak hanya indah dalam foto, tetapi juga aman, ramah lingkungan, dan memberikan manfaat nyata bagi warga Pandeglang.
Sejarah Tanjung Lesung merupakan perjalanan dari kawasan pesisir yang dikelilingi kehidupan desa menuju destinasi bahari terpadu dan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata.
Pengembangannya dimulai sejak awal 1990-an, memperoleh dasar hukum melalui PP Nomor 26 Tahun 2012, lalu resmi beroperasi sebagai KEK pada 23 Februari 2015.
Perjalanannya sempat terguncang oleh tsunami Selat Sunda 2018. Namun, Tanjung Lesung perlahan bangkit melalui pemulihan fasilitas, peningkatan kesadaran kebencanaan, promosi wisata, dan keterlibatan masyarakat lokal.
Saat berkunjung, jangan hanya menikmati pantainya. Luangkan waktu untuk mengenal desa sekitar, membeli produk pengrajin lokal, menjaga kebersihan, serta mematuhi petunjuk keselamatan.
Dengan cara tersebut, perjalanan ke Tanjung Lesung dapat ikut mendukung pariwisata Pandeglang yang lebih bertanggung jawab.
FAQ
1. Tanjung Lesung berada di mana?
Tanjung Lesung berada di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, tepatnya di kawasan pesisir barat Pulau Jawa.
2. Mengapa dinamakan Tanjung Lesung?
Nama tersebut dikaitkan dengan bentuk daratannya yang menjorok ke laut dan menyerupai lesung, yaitu alat tradisional untuk menumbuk padi.
3. Kapan Tanjung Lesung menjadi Kawasan Ekonomi Khusus?
Tanjung Lesung ditetapkan sebagai KEK melalui PP Nomor 26 Tahun 2012 dan resmi beroperasi pada 23 Februari 2015.
4. Apa saja aktivitas wisata yang tersedia?
Pengunjung dapat menikmati pantai, snorkeling, menyelam, memancing, berlayar, olahraga air, bersepeda, berkemah, serta mengunjungi pulau dan desa wisata di sekitarnya.
5. Apakah Tanjung Lesung pernah terdampak tsunami?
Ya. Kawasan ini terdampak tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Peristiwa tersebut mendorong peningkatan perhatian terhadap mitigasi bencana dan keselamatan wisata pesisir.