Tanjung Lesung hari ini identik dengan pantai berpasir terang, resor, olahraga air, dan pemandangan Selat Sunda.
Kawasan yang berada di Kabupaten Pandeglang, Banten, ini kerap dipromosikan sebagai salah satu destinasi bahari unggulan di bagian paling barat Pulau Jawa. Namun, bentuk Tanjung Lesung yang kita kenal sekarang tidak muncul secara instan.
Perjalanannya berlangsung selama puluhan tahun, melewati tahap perencanaan panjang, pembangunan kawasan wisata, penetapan sebagai destinasi strategis nasional, hingga perubahan status menjadi Kawasan Ekonomi Khusus.
Perkembangan Tanjung Lesung dari masa ke masa juga tidak selalu berjalan mulus. Masalah akses, keterbatasan infrastruktur, kebutuhan investasi besar, dan tsunami Selat Sunda 2018 pernah menjadi tantangan serius.
Di sisi lain, berbagai perubahan tersebut membuka peluang baru bagi masyarakat sekitar. Pariwisata mulai terhubung dengan penginapan, kuliner, transportasi, kerajinan, kegiatan budaya, hingga pembangunan jalan tol yang diharapkan membuat Tanjung Lesung lebih mudah dijangkau.
Tanjung Lesung Sebelum Menjadi Kawasan Wisata
Sebelum dikembangkan sebagai destinasi terpadu, Tanjung Lesung merupakan bagian dari bentang pesisir Panimbang di Kabupaten Pandeglang. Lingkungannya didominasi pantai, perkampungan, kebun, lahan pertanian, dan perairan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar.
Catatan tertulis mengenai kondisi Tanjung Lesung pada masa awal memang tidak sebanyak dokumentasi tentang Banten Lama atau Ujung Kulon.
Meski demikian, kehidupan di wilayah pesisir Pandeglang secara umum berkaitan erat dengan kegiatan pertanian, perikanan, perdagangan lokal, dan pemanfaatan sumber daya alam.
Nama Tanjung Lesung sendiri dipercaya berasal dari bentuk daratannya. Kawasan tersebut menjorok ke laut dan dianggap menyerupai lesung, yaitu wadah tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi.
Letaknya menghadap Selat Sunda serta menawarkan pandangan ke arah kawasan Gunung Anak Krakatau.
Pada masa itu, keindahan alam Tanjung Lesung belum dikelola dalam bentuk resor terpadu. Pantai dan kehidupan desa lebih banyak menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat daripada produk pariwisata berskala nasional.
Gagasan Pengembangan Dimulai pada Awal 1990-an
Perubahan besar mulai direncanakan pada awal dekade 1990-an. Dalam sambutan peresmian KEK pada 2015, Presiden Joko Widodo menyebut bahwa proyek pengembangan Tanjung Lesung telah ditetapkan sejak 1991.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rencana menjadikan Tanjung Lesung sebagai kawasan wisata besar sudah berusia sekitar 24 tahun ketika kawasan itu akhirnya diresmikan sebagai KEK.
Lamanya perjalanan ini menggambarkan bahwa pembangunan destinasi terpadu membutuhkan dukungan pemerintah, investor, lahan, dan infrastruktur yang tidak sederhana.
Pengembangan fisik kawasan kemudian dijalankan oleh PT Banten West Java Tourism Development Corporation atau PT BWJ. Informasi Kementerian Pariwisata menyebut pengembangan area resor terpadu seluas sekitar 1.500 hektare berlangsung sejak 1996.
Konsep awalnya terinspirasi oleh kawasan wisata terencana seperti Nusa Dua di Bali. Di dalamnya dirancang hotel, vila, restoran, ruang pertemuan, marina, lapangan golf, tempat rekreasi, serta fasilitas wisata bahari.
Mengapa Perkembangannya Berlangsung Lambat?
Potensi alam yang besar ternyata belum cukup untuk mempercepat pembangunan. Salah satu hambatan utamanya adalah akses dari Jakarta dan kota-kota besar menuju Pandeglang bagian barat.
Perjalanan darat yang panjang membuat wisatawan harus menyediakan waktu lebih banyak. Kondisi tersebut juga memengaruhi minat investor karena pembangunan hotel dan fasilitas wisata sangat bergantung pada kemudahan akses serta jumlah pengunjung.
Selain jalan, kawasan terpadu membutuhkan listrik, air bersih, jaringan telekomunikasi, pengolahan limbah, layanan kesehatan, dan tenaga kerja terlatih. Tanpa fasilitas dasar tersebut, pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan keindahan pantai.
Menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional pada 2011
Tahap penting berikutnya terjadi pada 2011. Tanjung Lesung ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional atau KSPN melalui Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional.
Status KSPN berarti kawasan tersebut dinilai mempunyai fungsi utama pariwisata dan berpotensi memberikan pengaruh penting terhadap pertumbuhan ekonomi, sosial budaya, pemanfaatan sumber daya alam, dan pembangunan wilayah.
Penetapan ini memperluas cara pandang terhadap Tanjung Lesung. Kawasan tersebut tidak lagi hanya dianggap sebagai proyek resor swasta, tetapi menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata Indonesia.
Keunggulannya tidak hanya terletak pada pantai. Tanjung Lesung juga dapat dihubungkan dengan Taman Nasional Ujung Kulon, pulau-pulau kecil, Gunung Anak Krakatau, kampung wisata, kesenian Banten, dan kerajinan masyarakat Pandeglang.
Konsep wisata semacam ini memungkinkan wisatawan mendapatkan pengalaman lebih beragam. Mereka dapat menikmati pantai, mengikuti olahraga air, menjelajahi pulau, mencicipi makanan lokal, serta mengenal kebudayaan masyarakat sekitar.
Penetapan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus pada 2012
Setahun setelah menjadi KSPN, Tanjung Lesung memasuki fase yang lebih serius. Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2012 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung.
Peraturan tersebut ditetapkan dan mulai berlaku pada 23 Februari 2012. Wilayah seluas kurang lebih 1.500 hektare secara resmi ditetapkan sebagai KEK dengan fokus utama pada kegiatan pariwisata.
Status KEK diberikan untuk menciptakan lingkungan usaha yang lebih menarik. Investor dapat memperoleh kemudahan tertentu dalam bidang perizinan, penanaman modal, perpajakan, kepabeanan, pertanahan, dan kegiatan usaha sesuai ketentuan yang berlaku.
Tujuan akhirnya bukan hanya membangun lebih banyak hotel. Kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang menggerakkan transportasi, kuliner, perdagangan, hiburan, ekonomi kreatif, perikanan, dan usaha masyarakat.
Profil Dewan Nasional KEK mencantumkan PT Banten West Java Tourism Development sebagai pengembang kawasan. Profil tersebut juga mencatat target jangka panjang investasi sebesar Rp92,4 triliun dan penyerapan sekitar 85.000 tenaga kerja.
Angka tersebut merupakan target pengembangan, bukan capaian investasi yang sudah sepenuhnya terealisasi.
Resmi Beroperasi sebagai KEK pada 2015
Tiga tahun setelah dasar hukumnya diterbitkan, KEK Pariwisata Tanjung Lesung resmi beroperasi pada 23 Februari 2015. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di kawasan Tanjung Lesung, Pandeglang.
Pada saat peresmian, pemerintah menekankan bahwa pembangunan harus segera diwujudkan di lapangan. Presiden juga meminta pembangunan fasilitas kawasan dan akses jalan dikerjakan secara beriringan agar Tanjung Lesung tidak kembali berhenti pada tahap perencanaan.
Ketika mulai beroperasi, beberapa fasilitas telah tersedia, seperti hotel, vila, tempat berkemah, klub pantai, dan layanan olahraga air. Namun, peresmian tersebut bukan berarti seluruh rencana induk telah selesai dibangun.
Momen itu lebih tepat dipahami sebagai dimulainya babak operasional KEK. Pengelola mendapatkan dasar lebih kuat untuk mencari investor, mengembangkan fasilitas, dan mempromosikan kawasan sebagai destinasi wisata terpadu.
Pada 2016, Tanjung Lesung kemudian dimasukkan ke dalam proyek strategis nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016. Kebijakan tersebut semakin memperjelas kebutuhan dukungan pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur dan konektivitas kawasan.
Dari Wisata Pantai Menuju Destinasi Terpadu
Seiring perkembangannya, Tanjung Lesung tidak lagi hanya menawarkan kegiatan duduk santai di tepi laut. Pengunjung mulai mengenalnya sebagai tempat untuk snorkeling, jet ski, banana boat, memancing, bersepeda, mengendarai ATV, hingga menjelajahi pulau-pulau kecil.
Kawasan ini juga menyediakan pengalaman menikmati matahari terbit dan terbenam dari sisi pantai yang berbeda. Aktivitas darat dan laut tersebut membuat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, bukan sekadar berkunjung selama beberapa jam.
Unsur budaya perlahan ikut dimasukkan ke dalam pengalaman wisata. Pertunjukan kesenian Banten, kuliner laut, kerajinan, dan kegiatan di kampung sekitar menjadi pelengkap daya tarik resor.
Perkembangan ini penting karena destinasi yang sehat tidak seharusnya berdiri terpisah dari masyarakat. Hotel dan restoran dapat menyerap hasil pertanian, ikan, makanan olahan, jasa transportasi, tenaga kerja, dan produk kerajinan dari wilayah sekitar.
Namun, keterlibatan warga perlu dikelola secara nyata. Masyarakat membutuhkan pelatihan, akses modal, standar produk, pemasaran, serta kesempatan menjadi pemasok bagi usaha yang beroperasi di dalam kawasan.
Tsunami Selat Sunda 2018 Menjadi Titik Balik
Perjalanan Tanjung Lesung mengalami ujian berat pada malam 22 Desember 2018. Tsunami Selat Sunda menerjang pesisir Banten dan Lampung, termasuk kawasan wisata Tanjung Lesung.
BMKG menjelaskan bahwa tsunami tersebut tidak dipicu gempa tektonik. Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu longsoran lereng gunung, kemudian menimbulkan gelombang yang mencapai sejumlah wilayah pesisir.
Karena sumbernya bersifat vulkanik, sistem peringatan yang saat itu berfokus pada gempa tektonik tidak otomatis mengeluarkan peringatan tsunami.
Bencana tersebut merusak fasilitas wisata, permukiman, dan infrastruktur di pesisir. Tanjung Lesung juga mendapat perhatian luas karena sebuah acara musik yang sedang berlangsung di tepi pantai ikut terdampak.
Setelah peristiwa itu, perkembangan kawasan tidak lagi dapat hanya membahas investasi dan jumlah pengunjung. Keselamatan, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, papan informasi, bangunan tahan gempa, serta edukasi kebencanaan menjadi kebutuhan utama.
Kajian Kementerian PUPR setelah bencana menyoroti perlunya bangunan evakuasi, zona rawan yang jelas, pengamanan pantai, perbaikan sistem peringatan, dan penyesuaian struktur bangunan.
Masalah air bersih, sanitasi, sampah, dan perlindungan kawasan penyangga juga perlu ditangani bersama.
Pemulihan dan Kebangkitan Pariwisata
Setelah melewati masa tanggap darurat, Tanjung Lesung mulai membangun kembali citranya sebagai destinasi bahari. Fasilitas yang terdampak diperbaiki, kegiatan wisata kembali dijalankan, dan promosi dilakukan secara bertahap.
Pemulihan bukan hanya berkaitan dengan bangunan. Kepercayaan wisatawan juga harus dibangun melalui informasi keselamatan yang lebih jelas dan kesiapan pengelola menghadapi keadaan darurat.
Kegiatan pariwisata kemudian berkembang ke arah yang lebih beragam. Selain olahraga air dan penginapan, kawasan mulai mengangkat wisata olahraga, festival, kuliner, budaya pesisir, konservasi, dan kegiatan masyarakat.
Festival Pesona Tanjung Lesung 2026, misalnya, dirancang menampilkan parade kapal layar, kuliner khas Pandeglang, pertunjukan tradisional, permainan kolecer, dan pesan pelestarian lingkungan.
Perkembangan tersebut menunjukkan upaya menghubungkan resor modern dengan identitas budaya daerah.
Jalan Tol Membuka Babak Konektivitas Baru
Salah satu faktor yang paling menentukan masa depan Tanjung Lesung adalah Jalan Tol Serang–Panimbang. Jalan sepanjang sekitar 83,6 kilometer tersebut dibagi menjadi tiga seksi: Serang-Rangkasbitung, Rangkasbitung-Cileles, dan Cileles-Panimbang.
Seksi pertama sepanjang sekitar 26,45 kilometer telah beroperasi sejak 2021. Berdasarkan laporan Kementerian PU pada April 2026, pembangunan Seksi 2 telah mencapai tahap akhir, sedangkan pekerjaan Seksi 3 masih diselesaikan secara bertahap.
Ketika seluruh ruas tersambung, perjalanan dari Jakarta menuju Tanjung Lesung diproyeksikan menjadi sekitar dua sampai tiga jam. Sebelumnya, waktu tempuh dapat mencapai empat hingga lima jam, tergantung kondisi lalu lintas.
Dampaknya berpotensi melampaui sektor pariwisata. Jalan tol dapat membantu distribusi hasil pertanian, barang kebutuhan hotel, produk UMKM, serta mobilitas masyarakat di Serang, Lebak, dan Pandeglang.
Meski demikian, jalan tol bukan satu-satunya jawaban. Kualitas jalan penghubung terakhir, transportasi umum, sanitasi, air bersih, pengelolaan sampah, dan layanan darurat tetap menentukan kenyamanan pengunjung.
Perkembangan Tanjung Lesung pada Masa Sekarang
Memasuki 2026, pembangunan Tanjung Lesung masih berlangsung. Siaran pers Dewan Nasional KEK pada April 2026 menyebut akumulasi investasi kawasan telah mencapai sekitar Rp3,09 triliun.
Jumlah tersebut menunjukkan adanya perkembangan, tetapi masih cukup jauh dari target jangka panjang Rp92,4 triliun yang dicantumkan dalam profil KEK. Artinya, perjalanan menuju destinasi terpadu berskala internasional belum selesai.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pembangunan tidak hanya terlihat di dalam kawasan resor. Desa penyangga perlu mendapatkan akses terhadap air bersih, pengelolaan sampah, pelatihan pariwisata, peluang usaha, dan perlindungan bencana yang setara.
Lingkungan pesisir juga perlu dijaga. Terumbu karang, kualitas air, vegetasi pantai, dan ruang terbuka merupakan modal utama. Pembangunan yang terlalu padat atau pengelolaan limbah yang buruk justru dapat menghilangkan daya tarik alamnya.
Keberhasilan Tanjung Lesung nantinya tidak cukup dinilai dari jumlah hotel atau wisatawan.
Indikator lain yang sama pentingnya adalah meningkatnya pendapatan masyarakat, bertambahnya usaha lokal, terjaganya ekosistem, dan tersedianya sistem keselamatan yang dapat diandalkan.
Perkembangan Tanjung Lesung dari masa ke masa menunjukkan perjalanan panjang sebuah kawasan pesisir menuju destinasi wisata nasional.
Rencana pengembangannya dimulai pada awal 1990-an, dilanjutkan dengan pembangunan resor, penetapan sebagai KSPN pada 2011, KEK pada 2012, dan peresmian operasional pada 2015.
Tsunami Selat Sunda 2018 kemudian menjadi titik balik yang menegaskan pentingnya mitigasi bencana dan pembangunan berkelanjutan. Kini, penyelesaian Tol Serang–Panimbang membuka peluang baru bagi pariwisata dan perekonomian Pandeglang.
Saat berkunjung, jangan hanya menikmati resor dan pantainya. Gunakan jasa warga, cicipi kuliner lokal, beli produk UMKM, patuhi jalur keselamatan, dan ikut menjaga lingkungan agar kemajuan Tanjung Lesung dapat dirasakan lebih luas.
FAQ
1. Sejak kapan Tanjung Lesung mulai dikembangkan?
Gagasan pengembangannya telah muncul sejak 1991, sedangkan pembangunan kawasan resor terpadu oleh PT BWJ berlangsung sejak pertengahan 1990-an.
2. Kapan Tanjung Lesung ditetapkan sebagai KEK?
Tanjung Lesung ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus melalui PP Nomor 26 Tahun 2012 pada 23 Februari 2012.
3. Kapan KEK Tanjung Lesung mulai beroperasi?
KEK Pariwisata Tanjung Lesung resmi beroperasi pada 23 Februari 2015 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.
4. Bagaimana dampak tsunami 2018 terhadap Tanjung Lesung?
Tsunami merusak fasilitas dan menghentikan sementara sejumlah aktivitas wisata. Peristiwa itu juga mendorong penguatan mitigasi, jalur evakuasi, dan edukasi kebencanaan.
5. Apakah Tol Serang-Panimbang sudah selesai?
Per April 2026, Seksi 1 telah beroperasi, Seksi 2 memasuki tahap akhir, dan Seksi 3 masih diselesaikan secara bertahap.